Merawat Kangkung, Merawat Bumi: Sebuah Refleksi Iman Katolik

 Halo kembali lagi di blogger saya sendiri. Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan kegiatan saya selama ujian praktek kolaborasi AGAMA dan BAHASA INDONESIA. Pada proyek ini kelompok saya yaitu: Saya dan Rafael akan menanam sayuran yaitu kangkung secara bersama-sama dalam pot yang berbeda. Akan tetapi setiap harinya kami akan menulis hasil pertumbuhan kangkung kami dalam sebuah jurnal. Ketika jurnal sudah penuh dan kangkung siap panen, kami diminta untuk memasak kangkung yang sudah kami tanam. 

Nah tapi tau ga sih, kenapa harus kangkung yang ditanam? Karena kangkung sendiri memiliki banyak manfaatnya dalam tubuh kita karena mengandung banyak vitamin seperti vitamin A, C, dan K, serta menjadi sumber mineral yang dapat menyehatkan organ pencernaan kita. Dan yang paling penting adalah kangkung adalah salah banyaknya sayuran yang mudah dan cepat ditanam, serta cepat dipanen. Saya berharap kepada kangkung ini awalnya dapat tumbuh dengan cepat, subur, dan bisa memasak makanan hasil rawat sendiri. Dari proyek ini juga saya belajar dari sisi Katolik juga bahwasannya, apa yang kita tanam harus kita syukuri karena itu bukan dari bantuan kita saja, tetapi dari bantuan Tuhan Yesus. Seperti di ayat ini: Yakobus 1:17: "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang...".

Lanjut..., ketika saya pertama kali mulai menanam benih kangkung, perasaan saya cukup bersemangat karena ini pertama kalinya saya mulai bercocok tanam kembali setelah terakhir kali itu saat SD. Ketika saya menanam saya rasa tanah yang saya beli di Pak Sigit itu adalah tanah yang subur, bisa dilihat dari bahan tanah kompos tersebut yaitu: Tanah lembang, pupuk kompos, dan sekam bakar. Ketika saya mulai menanam benih, saya hanya bisa berharap supaya benih ini akan bermanfaat bagi sesama hidup. Saat masa menunggu dan perawatan awal, saya fokus menyirami dan mengamati kangkung saya di setiap pagi hari dan terkadang di siang hari, tapi bagusnya itu disiram tiap pagi. Saya juga senantiasa memberi pupuk cair setiap minggu 1 kali. Perasaan saya senang sekali kala itu, dan ketika tunas sudah tumbuh pada hari ke-3, saya sangat bersemangat menunggunya tumbuh kembali menjadi lebih besar. Dari hal ini saya belajar, untuk menunggu setiap kepastian yang diberikan Tuhan, siapa tau itu adalah tandanya. 



Ketika masa pemeliharaan, saya berfokus pada strategi penataan posisi tanaman kangkung saya supaya terkena sinar matahari dengan cukup. Saya merasa bahagia ketika di hari ke-14, kangkung saya sudah tumbuh melebihi 10 cm dan daunnya juga sudah semakin melebat. Setelah saya dapat menumbuhkan tanaman saya setinggi itu, saya merasa bahwa menjaga sesuatu tetap tumbuh itu adalah hal yang sulit. 

Dari pengalaman menanam benih kangkung ini hingga dia bisa tumbuh tinggi dan subur, pasti ada hambatan atau tantangan yang saya alami. Tantangan yang saya alami yaitu ketika di hari ke-18 dimana ada 1 tangkai kangkung yang layu dan daunnya berwarna kuning, serta di hari ke-21 yang dimana ada sedikit yang layu juga. Dari situ saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam merawat kangkung.




Dari pengalaman saya ini, banyak yang bisa dipetik dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu untuk bersabar, merawat, berkegantungan. Dari sisi kesabaran kita belajar untuk menyadari bahwa menanam kangkung itu membutuhkan waktu dan keaabaran untuk menunggu hasil panen. Sedangkan dari sisi merawat dan ketergantungan, kita belajar untuk teliti dalam merawatnya dan kita juga selalu berkegantungan pada alam. Dan pada sisi Katoliknya sendiri, kita diajarkan seperti pada ayat Galatia 6:9, "Janganlah kita lelah berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lelah." Hasil panen kangkung juga dapat mengajarkan kita untuk bersyukur atas karunia yang diberikan. 

Atas hasil panen kangkung saya yang memuaskan, saya akan mengucap syukur kepada Allah yang Maha Kuasa. Tuhan yang Maha Baik, kami mengucapkan syukur atas tanaman kangkung yang telah kami tanam. Kami berterima kasih atas kesempatan untuk menanam dan merawatnya, dan atas hasil panen yang telah diberikan. Kami mohon agar kami dapat menggunakan hasil panen ini untuk memuliakan Nama-Mu dan melayani sesama. Bantu kami untuk selalu bersyukur dan menghargai karunia-Mu, dan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

AMIN


Hanya Jurnalnya Nuel

Haloo nama saya Nuel, saya masih bersekolah di jenjang SMP di SMP Santa Maria selamat menyaksikan blog saya:)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama